Headlines News :
Powered by Blogger.
    Showing posts with label rupa. Show all posts
    Showing posts with label rupa. Show all posts

    Lampu Hias Limbah Onderdil

    “pengalaman ini bisa menginspirasi anda, supaya lebih peka melihat peluang usaha”

    Bagi sebagian orang, onderdil bekas mobil, motor, atau sepeda, mungkin hanya barang rongsokan, yang tidak memiliki nilai. Namun, ditangan seorang kreatif, barang rongsokan tersebut, ternyata dapat dikreasi menjadi barang bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

    Dengan ide kreatifnya, Amin Hamidan, warga Bojongsoang, Kabupaten Bandung merangkai limbah mobil, motor, dan sepeda, menjadi lampu hias yang unik dan menarik. Usaha kreatif tersebut dirintis Amin sejak tahun 2000 lalu. Ia mulai berekperimen membentuk lampu hias dari berbagai limbah onderdil yang dibelinya dari tukang loak.

    Dari keterampilan ini, Amin bisa menghidupi keluarganya. Usahanya terus berkembang, bahkan kini dibantu tiga orang karyawan. Lampu hias kreasi amin telah dipasarkan ke luar negeri, seperti Yunani, Spanyol, Belanda, Jepang, Taiwan, hingga Amerika.

    Dalam sehari, Amin bisa menyelesaikan lampu hias sebanyak tiga buah. Harga untuk satu lampu hias bervariasi, mulai dari 800 ribu hingga 3,5 juta rupiah.

    Proses pembuatan lampu hias ini, terbilang tidak terlalu rumit. Dimulai dengan memilah onderdil, kemudian satu per satu dibersihkan dengan minyak tanah atau bensin. Selanjutnya, dirangkai dengan sentuhan kreatif.

    Setelah terbentuk, lampu hias dicat, lalu dilengkapi instalasi listrik. Lampu hias semakin cantik saat ditambahkan tudung lampu dan siap dipasarkan.

    Mudah bukan? (*dani)

    ***
    Bengkel Kreasi Amin Hamidan
    Perum Bumi Bakti Abadi, Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

    Bambu Harmoni

    Bambu yang tumbuh subur di iklim tropis dan sub topis ini, ternyata beragam manfaatnya, mulai digunakan sebagai alat rumah tangga, alat beladiri, maupun alat musik.

    Di Indonesia, terutama di tanah Pasundan, bambu telah diolah “motekar” oleh para seniman menjadi alat musik pada seni tradisional, misalnya, angklung, calung, suling, dan karinding. Namun siapa sangka, tanaman jenis rumput-rumputan ini, bisa juga diolah menjadi alat musik modern, seperti gitar, biola, celo, rebab, hingga saksofon dan klarinet.

    Seorang seniman yang mengembangkan bambu menjadi alat musik modern yakni, Abah Yudi. Melalui kelompok Bambu Harmoni di bawah naungan Indonesia bambu Society (IBS), Abah Yudi terus bereksperiman dan mengeksplorasi bambu menjadi alat musik.

    Alunan musik akan terdengar unik dari bunyi alat musik bambu.


    Untuk satu alat musik, rata-rata dibutuhkan bambu dengan ukuran diameter 10 – 12 sentimeter. Waktu proses produksinya bervariasi, misalnya, produksi terompet membutuhkan waktu satu hari, sedangkan untuk membuat satu buah gitar atau biola, proses produksinya bisa satu bulan..

    Selain memproduksi alat musik, IBS juga membuat karya kerajinan lainnya, seperti miniatur rumah adat dan berbagai aksesoris rumah tangga.Yang tak kalah menariknya, adalah sepeda bambu. Sepeda ini, bukanlah hanya pajangan semata, namun juga dapat digunakan.

    Kendala yang dihadapi IBS, saat ini, terkait permasalah hak paten. Seluruh hasil karya IBS belum memilik hak paten, lantaran terbentur biaya hak paten yang cukup mahal.

    IBS didirikan atas dasar rasa keprihatinan terhadap tanaman bambu yang cenderung tidak dihargai di indonesia. Persediaan bambu yang melimpah, kurang dilirik sebagai sebuah komoditas seni bernilai rupiah.

    Museum bambu - galeri 16
    jl. Raya cibeureum no. 16 bandung 40535 indonesia
    phone. +62 22 6013 508
    e-mail : indonesianbamboosociety@gmail.com
    Contact person :
    dipl.-ing. Adang muhidin, st (+62 8212 8088 152)
    mauran tarqi (+62 8122 1010 144)

    Misi
    Kampanye & sosialisasi manfaat dari bambu untuk seluruh masyarakat indonesia.

    Biografi
    Abah Yudi rahmat dilahirkan di kota garut pada tanggal 13 mei 1952. Bakat memainkan alat musik biola sudah terlihat sejak masih di jenjang sekolah menengah pertama. Namun abah Yudi mulai berkarya di pembuatan alat musik bambu semenjak tahun 1979 di kota bekasi. Alat musik yang pertama kali abah Yudi ciptakan adalah biola bambu. Biola bambu ini terinspirasi dari biola kayu beliau yang patah setelah... Dimainkan oleh kawan-kawannya, dan pada saat perjalanan pulang abah Yudi menemukan sepotong bambu. Setelah diamati dengan seksama, akhirnya abah Yudi mengambil kesimpulan apabila biola menggunakan bahan dasar bambu, maka biola tersebut akan lebih kokoh dibandingkan menggunakan bahan dasar kayu. Bermodalkan bambu yang beliau pungut di jalan, mulailah abah Yudi bereksperimen membuat biola bambu dan alat musik lainnya berbahan dasar bambu, bahkan saat ini abah Yudi juga bereksperimen menciptakan alat musik lainnya berbahan dasarkan labu.

    Sumber tambahan: http://www.facebook.com/IndonesianBambooSociety/info

    Komik Jadul


    Invasi komik komik luar negeri, terutama dari Jepang, dan Amerika, terbukti telah mematikan, minat baca masyarakat terhadap komik lokal. Padahal, di era tahun 70 - 80an, komik bertema pewayangan, serta silat, karya para komikus lokal, sempat mencapai kejayaannya. Selain serangan komik luar, tidak adanya percetakan, yang berminat menerbitkan komik dalam negeri, semakin membuat terpuruk, para komikus lokal. Lantas bagaimana nasib komik indonesia saat ini??

    Bagi anda, yang lahir di era tahun 8o, hingga 90 – an, tema cerita bergambar, atau komik, bertema silat dan pewayangan, mungkin terasa asing, dan bahkan aneh. Padahal, pada masa kejayaannya, komik komik ini, banyak digemari masyarakat indonesia, dan bahkan mampu, menjadi tuan, di rumahnya sendiri.

    Seiring dengan gencarnya, serangan komik – komik superhero, dari Amerika, serta negeri sakura, jepang, minat untuk membaca komik dalam negeri, terus menurun. Kondisi ini, diperburuk karena para penerbit seakan enggan menerbitkan komik hasil karya para seniman komik lokal. “takut merugi”.

    Lantas, bagaimana dengan kelangsungan, para senimannya kini??.

    Ya…, ditengah kegalauan komik hasil karya anak negeri, para seniman komik ini, tetap berkarya, dengan karateristik mereka masing masing.

    Sejarah mencatat, komik mulai digemari di tanah air, sejak koran koran terbitan belanda, memuat cerita bergambar, tentang tema superhero, seperti flash gordon, di tahun 1930. Kondisi tersebut, kemudian dimamfaatkan para komikus lokal, dengan mentranspormasi, beberapa karater pahlawan super, ke dalam selera lokal.

    Selain mengadopsi karater pahlawan super, sejumlah komikus lainnya, juga mengembangkan komik, yang berorientasi kepada khazah kebudayaan indonesia. Hingga akhirnya, masa kejayaan komik, berangsur turun, ditengah berbagai serangan media hiburan lainnya.

    Meski kondisinya, tidak seindah masa lalu, tidak berarti para komukis, lantas berhenti berkarya. Seniman komikus, yang tergabung dalam ikatan seniman komunikus indonesia, atau ISKI tetap berupaya eksis.

    Mereka lebih mengekspresikan diri, melalui ilustrasi, terlebih dalam bidang pendidikan, dan justru lebih diminati di negeri orang.

    Dibandingkan dengan negeri tetangga, seperti malaysia, perkembangan komik indonesia, dapat terbilang kalah. Di negeri jiran, eksistensi komikus lokal, masih terdengar, gaungannya. Sementara di indonesia, gaungnya terdengar makin menjauh.

    Tak ada harapan lain, bagi para komikus lokal, selain menunggu penerbit besar, yang berani, kembali menerbitkan komik karya, komunikus lokal, untuk mengembalikan masa kejayaan. (git)

     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. BandungDua - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger